Kemarau

Hari berjalan seperti biasa. Senin sampai Minggu. Dengan keadaan pagi yang kurang lebih sama. Detak jantung yang lemah akibat peristirahatan semalaman tidak dapat membuat mata kita terbuka jelas dan berfikir jernih. Tidak pagi ini, kepala sempoyongan terasa berat dan tubuh tak terasa seringan pagi pagi sebelumnya. Kertas-kertas nota berserakan di sekitar meja kerjaku, dan kembali harus kupikirkan sudah berapa banyak kertas yang kubuang sebagai hasil pengeluaran sehari-hari. Untuk kali ini kuabaikan saja kertas-kertas tersebut, enggan untuk kusentuh.

Suasana pagi ini begitu duka dengan warna awan seperti tembok penjara yang lengket dan bau. Aku bahkan sulit menghirup udara yang terasa padat. Entah sudah beribu kali aku merasakan hari seperti hari ini, dan sekali lagi aku harus bertahan berjalan menuju hantaman beban. Lucu rasanya, sehari sebelumnya semua berjalan sesuai rencana dan penuh kepastian. Selayaknya manusia, lama kelamaan aku mulai percaya bahwa elemen-elemen yang ada disekitar kita serba penuh ketidakpastian dan penuh tanda tanya. Lalu apa lagi yang harus dilakukan? – Muncul lagi satu pertanyaan.

 

Trias Nuriarta

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s