Setiap Kehidupan Takkan berakhir Abadi

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, Aku merasakan kehilangan yang besar ketika salah satu dari anggota keluargaku berpulang kepada Tuhan. Saat itu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, lupa tepatnya umurku berapa. Sebagai mahkluk polos dan kurang lebih tahu apa arti kematian, aku duduk di samping jenazah kakekku. Semua orang menangis tersendu dan terduduk di lantai dengan berpakaian hitam. Ada beberapa yang berpakaian bebas, tak terkecuali aku, memakai baju terusan putih bersih tanpa lengan dengan corak bunga-bunga merah kecil. Mengapa kalian semua harus berkabung memakai pakaian hitam? Pikirku. Apakah kalian tak ingin berpenampilan menarik dan indah untuk terakhir kali didepan orang yang kita kasihi?. Siapapun yang memiliki aturan baju hitam, aku takkan pernah setuju. Kau akan mendapati aku memakai warna lain kecuali hitam. 

Dengan pakaian-pakaian gelap mereka dan suasana perasaan yang terasa asing, sering kali aku merasa merinding. Memandang dari kacamata seorang anak kecil, saat itu aku tak mengerti histeria keluargaku yang begitu hebat. Seketika aku terbawa emosi, dapat merasakan kesedihan setempat yang mendalam. Aku dapat merasakan dadaku penuh dengan kegelapan dan kesakitan, ingin sekali rasanya mengeluarkan air mata, tetapi aku tak dapat menangis begitu saja…Aku harus tegar. Sekilas kenangan-kenangan bersama beliau terlintas dipikiranku, air mataku sudah mulai menggenang. Aku menutup mata, berusaha menghilangkan jejak kesedihan, mataku kembali bersih. Mengapa aku harus berusaha tegar dan tak sedih didepan semua orang sedangkan kesedihan itu menjadi beban dan pukulan yang berat yang harus ku tanggung dan hadapi?.

Waktu bergulir…

Sepeninggalan kakekku, aku mulai menjalani hari-hariku dengan biasa. Tak selang beberapa bulan dari kehilangan besar tersebut, aku mendapati berita bahwa sepupuku meninggalkan dunia, sepupuku yang selalu menjadi tempat berbagi suka bersama, dan duka bersama. Perbedaan umur yang jauh takkan menjadi masalah bagiku, Ia merupakan seorang kakak lelaki yang begitu peduli denganku selalu menjagaku, aku tak pernah menahan perasaanku terhadapnya. Keterbukaan yang luar biasa, menampar mukaku sangat keras ketika aku bangun untuk pergi sekolah. Ibuku menawariku untuk menemuinya, sekali lagi untuk terakhir kali sebelum pemakaman. Aku menolak…dan aku menolak pula untuk pergi sekolah hari itu.

Setahun berjalan…

Aku menerima raport kelas, umurku 11 tahun. Dengan keinginan yang besar sekali malam ketika aku menerima raport tersebut, aku memaksa orang tuaku pergi mengunjungi Eyangku. Akhirnya dengan sedikit rengekanku, mereka menyetujui. Pukul delapan malam aku sampai di depan rumah Eyang, aku menemuinya dan dengan bangga melambai-lambaikan raportku. Eyang, sosok guru yang baik dan terlihat kaku karena kharisma dan kebijakannya, tersenyum pada kedua orang tuaku saat dengan tak sabar aku membalik-balik kertas raport ke halaman terakhir. Aku sudah lupa apa ucapannya pada saat itu. Beberapa jam setelah kunjungan itu, kami pamit untuk pulang. 

Aku terbangun membuka mata keesokan hari, terbangun karena Ibuku menerima telephone dari seseorang. Aku tak mendengar jelas pembicaraan apa yang sedang berlangsung, terasa samar-samar. Jam menunjukan pukul lima pagi lebih beberapa menit. Ibu masuk ke dalam kamar, dan dengan keadaan tubuh yang masih mengantuk, aku duduk di kasur melihatnya masuk, mendengarkan kata-kata yang tak pernah terbayang, seakan telingaku menutup rapat dan yang terdengar hanyalah ngiang suara dari bibirnya. Belum dua belas jam aku bertemu dengannya, secepat hitungan detik aku melihat wajahnya semalam..dan Ia sudah pergi.

Semenjak kepergian beliau, aku mendapati bahwa banyak sekali orang-orang terdekat yang kukenal berpulang kepada-Nya. Mengapa semua orang berjatuhan seperti serdadu kecil di tengah lapangan yang luas dan kejam ? Mengapa harus tiba-tiba saat kita tak memperhatikan dan tak menyadari? Apakah dengan ketiba-tibaan itu, membuat kita tak perlu menyiapkan hati kita dan tak berpura-pura didepan mereka yang akan pergi meninggalkan?

Aku mendapati hatiku terlalu tegar untuk setiap kejadian yang menggerogoti jiwaku. Mendapati bahwa, aku tak perlu menangis kepada mereka dan keadaan-keadaan yang sebenarnya menyakitiku. Tak perlu senang berlebihan, karena kenangan-kenangan itu pada akhirnya akan menyakitkan. Penjaga-penjaga hatiku telah kuperintahkan untuk memakannya semua dan aku tak pernah ingin menunjukkan perasaan sejati.. Mereka sudah terbentuk kuat dari hari pertama aku tahu apa arti kehidupan dan kematian.

Tetapi kau dan aku tahu… bahwa segala sesuatu yang hidup, takkan pernah menjadi kekal dan abadi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s