Kayu Pohon

Aku adalah kayu. Terlepas dari jiwaku yang dinamakan pohon, aku berasal dari benih kecil, dan berkembang bersama dengan akar dan daun. Akarku masuk ke dalam tanah, menggenggam mineral dan olahan duniawi. Walaupun terlalu banyak benda-benda asing disekitar akarku, aku mampu memilah mana yang dapat aku jadikan makanan bagi jiwa dan ragaku. Sehingga pada akhirnya aku dapat berdiri tegak dan kokoh, menjadi pelindung bagi mereka yang membutuhkanku. Aku dijadikan bahan bakar, untuk menghangatkan udara dingin. Aku dijadikan pelindung bagi manusia untuk berteduh dan aku dielu-elukan apabila badanku kokoh untuk dijual oleh sang penjagal. 

Aku banyak belajar dari nenek moyangku, apabila hidup menjadi sebuah pohon adalah pilihan terberat dan terhormat, tetapi toh aku tak bisa memilih dilahirkan sebagai apa. Hidup hanya sekali untuk ratusan tahun, berbuatlah semampumu. Aku belajar untuk memberi kebebasan dan keikhlasan terhadap apa yang terjadi disekitarku. Lagipula untuk apa aku menyesal, bila tidak ada yang dapat menghentikan keadaan di luar kuasaku.

Dulu, aku tumbuh sebagai pohon yang cukup matang untuk membuat keputusan. Banyak pohon seusiaku mati sia-sia, karena mereka tidak dapat bertahan. Mereka mati dan tak pernah  tumbuh kembali. Bila suatu hari saatnya tiba aku mati, semoga saja aku bertahan dan tetap tumbuh berkembang, setidaknya dikenang.

Sebelum menjadi kayu, tiap malam aku selalu berpikir :

Malam ini, hujan terus mengguyur badanku…terlalu banyak air untuk kuserap. Selalu setiap malam, untuk dua bulan terakhir ini. Aku menunggu sabar hingga esok pagi semua meresap dan matahari bersinar hingga dapat kunikmati hangatnya cahaya memelukku. Tetapi sepertinya cuaca sedang tidak bersahabat. Kadang angin lembut hanya menggerakkan daun-daun lebarku. Hari berikutnya angin kencang tiba menggoyangkan seluruh rangkaian badan menyebabkan batang-batangku berpegangan untuk terus bertahan pada tempatnya. Hingga patah dan jatuh ke tanah. Seringnya badai melanda tak membuatku tambah kuat. Bagaimanapun aku tetap sedih kehilangan bagian diriku. Aku hanya dapat bertahan.

Kembali pada kenyataan. Keesokan hari setelah aku tak pernah berpikir mengenai nasibku, seorang penjagal menghampiriku bersama dengan beberapa orang lainnya. Membawa mesin gergaji, kendaraan-kendaraan besar, dan tali tambang yang terbuat dari sejenisku pula. Penjaggal itu mengelus-elus kakiku, dan mengetuk-ketuk keras. Kemungkinan ia berkata, “Kamu akan menjadi berguna sekali!”. Ia mulai menyalakan mesin gergajinya dan mengarahkan ke arah kakiku tadi. Pelan dan perlahan. Aku berteriak menimbulkan bunyi berdecit bersamaan dengan dalamnya gergaji itu. Aku merasa seperti air mataku mengalir di dalam badanku. Menyisakan bagian badanku yang terpotong menjadi basah. Kenyataan ini membuat aku tumbang. Bahwa sekarang aku adalah kayu. Aku dijejerkan pada bonggolan kayu lainnya, sebelum ditelanjangi. Perjalananku sebagai kayu mungkin masih panjang, entah apa yang akan dunia lakukan kepadaku. Mungkin aku akan dikerati, mungkin aku akan dijadikan kursi, atau mungkin aku dijadikan sisa sebagai kayu buangan.

Tetapi posisi paling terhormat adalah ketika kamu menjadi rumah. Kau akan merasa bersyukur menjadi pendengar dan penghuni yang tak bersuara ketika manusia di dalamnya berbicara. Mereka berbicara mengenai hidup yang tak beda dengan apa yang kita rasakan ketika sebagai pohon. Aku pikir Tuhan adil, bahwa setiap makhluk di dunia ini memiliki nasibnya masing-masing. Baik maupun buruk. Dari sekian banyak benda hidup, aku menjadi benda mati yang pernah hidup…saat ini, hanya itu yang dapat aku syukuri. Setidaknya sampai saat ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s