Cintailah Aku

Jakarta, 27 March 2009

Dentingan kesunyian mulai menghantui perasaanku. Pilar-pilar bangunan kembali memutar keberadaanku yang kian melemah. Kosong. Gelap. Hitam dan kelam. Apalagi rangkaian kata yang dapat menggambarkan hati yang berduka. Semua ucapan telah berlalu, semua kenangan akan menjadi baku. Lalu, aku mulai berjalan menjauhi segala yang ada dengan segala daya. Tak pernah terpikir bahwa akan setega ini aku berlaku, tanpa memandangmu yang t’lah diam terpaku. Tonggak dan perisai kokohmu pernah melindungiku dari segala bahaya, dan aku bersyukur akan segala harta yang ada bahwa aku pernah mencintaimu. Dan sekarang semua tersisir oleh desir hasratku kepadanya. Kepadanya tlah kukontrakkan hatiku. Kepadanya tlah kuserahkan tubuhku dan jiwaku untuk dimiliki. Maafkan aku. Karena aku, kau dapat merasakan kejamnya seorang wanita. Karena aku, sebuah janjimu telah terbukti..dan menyayat hati hingga tak tertandingi. Apapun yang berlaku, aku melihatmu belajar. Belajar menghargai setiap detik kehidupanmu. Aku dapat melihat perkembangan dan langkah terbaik sudah kau lakukan. Aku terseyum, dan hatiku menangis. Betapa tak bersyukurnya aku dahulu, tak dapat menerima segala kekuranganmu disaat setiap kekuranganku kau terima bertubi-tubi dengan tangan terbuka. Sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk memulai mengiris hatimu pelan dan dalam.

Kini aku membuka hidupku yang baru. Memulai semua ini dari awal kembali. Selayaknya ia yang mencintaiku, aku pun mencintai dan menghargai setiap kata yang terucap dari bibirnya. Hingga hari itu, perbedaan rasa menjalar di dadanya. Menggerogoti jejak langkah yang ia tapaki sehingga perasaan itu lambat laun mengubah apa yang kita tak miliki sebelumnya. Fondasi. Kekuatan yang belum terbentuk diantara kita. Kalaupun perlu kubertanya, bagaimana kekuatan fondasi kita ? apa jawabnya. Aku berusaha mengerti ia ingin dicintai seperti dirinya mencintaiku. Maka aku melaju meraih apa yang ia sebut-sebut sebagai ungkapan sayang. Aku membuka otakku yang sempit, berusaha mengerti dan menerima segala bentuk kekurangan yang ada dalam dirinya disaat ia tak menyadari seberapa besar usahaku karena ia belum mengenalku seutuhnya. Sejujurnya, aku takut. Aku takut kehilangannya. Aku takut tak bisa mengendalikannya. Sejujurnya aku takut mencintainya. Aku tak ingin melihat dan merasakan resiko dalam mencintai seseorang…, yaitu pedihnya hati.  Tapi segala firasat dan pikiran kutepis jauh agar aku dapat memilikinya dan ia dapat memilikiku.

Untuk pertama kali kukatakan, aku mencintaimu Batara, maka cintailah aku dengan sepenuh hatimu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s