Aku Berduka Akan Mu..

Jakarta, 22 Juni  2009

Malam kelabu. Ia membasuh wajahnya yang penuh debu dengan bahan kimia yang ku rasa, sama bahayanya dengan pola pikirnya. Air pun tak dapat mengusir rasa kesal yang mengusir kesabarannya. Sekali lagi Ia tak habis pikir, apa salahnya dalam ‘mengingatkan’ ? atau hanya dirinya yang harus ‘sadar diri’?. Entahlah, apakah Ia bodoh atau Ia merasa benar karena egonya saja. Jelas terlihat hati dan pikirannya berada ditempat berbeda yang tak layak. Terlintas seketika seperti mengedipkan mata, tahun 2002. Segala kenangan yang tak kan pernah Ia hapus, dimana pada akhirnya segala kenangan yang terbangun telah terkapar menyatu padat menjadi noda hitam diatas kain putih selama 7 tahun lamanya. Mencoba mencari segala cara berharap agar makhluk bernama wanita itu melepas tangan yang menutupi mata beningnya, berpaling dan kembali membuka satu-satunya jalan kebahagiaan sejati yang pernah Ia genggam dan rasakan. Ia menatap bumantara* melalui kaca jendela merasakan diri bagaikan candala*. Tanpa tertahankan, butiran-butiran halus dari mata menetes seakan menutup lobang-lobang dosa yang telah wanita itu perbuat terhadapnya. Entah berapa tetesan lagi yang dapat menutup rongga besar di dadanya untuk kembali menjadi semula. Dirinya lemah dan lelah. Kemudian, Ia menutup mata menyambut alam bawah sadar, dan memanggil mimpi-mimpi yang sudah menunggu untuk dibangunkan.

Hari bergulir kembali menjadi terang. Matahari tersenyum lebar, tanpa menghiraukan tubuhnya yang seakan tak bernyawa. Bola matanya bergerak ke kiri ke kanan, beberapa kedutan sebelum Ia memperlihatkan mata hitamnya. Kembali wanita itu menghantui pikirannya yang belum jernih.  Hatinya mulai berdebar, menahan kepedihan dan kepahitan yang belum berlalu. Dada terasa sesak dan nafasnya terdengar memburu. Jari-jarinya mulai mengepalkan sebuah kebencian mengingat Ia tak dapat menyalurkan setiap rasa. Seandainya Tuhan dapat bertindak, mungkin wanita itu sudah mati. Tapi baginya, wanita itu takkan pernah mati. Ya, mungkin mati, dicintai sampai mati olehnya yang begitu lugu dan naif.

Ia menarik tubuhnya, melangkahkan kaki diatas ubin-ubin hitam keabu-abuan dingin menusuk. Tangannya meraih gagang pintu, Ia terdiam seketika dan berpaling berjalan menjauhi kayu cokelat yang tadinya ia harus lewati. Entah, apa yang ada dipikirannya, tetapi Ia meraih sebuah pena dan beberapa lembar kertas. Berbaring diatas tempat tidurnya, dan mulai menulis.

—–

Juni 2002, untuk pertama kalinya Aku dapat menerimamu seutuhnya dan menyatakan pernyataan-pernyataan yang membuat hatimu berdebar kencang ketika mendengar deruanku. Aku tak pernah menganggap dirimu cantik maupun buruk rupa. Seolah daya menarik nyawaku untuk mencintaimu, aku tak pernah berpaling dan menengok kebelakang mengingat kekasihku yang lama. Dan sekarang, aku dihadapkan dengan satu kesempatan lagi untuk mencintai seorang hawa, sudah bolehkah Aku memanggilmu ‘Kekasih’?. Seandainya dulu kau tak ada, mungkin Aku masih berlarut dalam kesedihan, tetapi kesetiaanmu menungguku untuk membuka hatiku yang baru, patut kau miliki seutuhnya, setidaknya sekarang sudah kubuktikan seberapa setia dan kesediaan diriku untuk menutup segala kemungkinan buruk yang dapat terjadi dan menimpa dirimu.

Sering kali kita beradu pendapat. Setiap masalah kecil, dapat memacu ego kita masing-masing. Sampai batas kesabaranku memuncak mengakibatkan retakan kaca depan mobil hitammu. Dan kau menangis, aku menjadi luluh oleh tangisanmu. Entah sudah berapa ratusan kali hal-hal kecil menggerogoti jiwa dan hati kita masing-masing. Sampai pada akhirnya kau berpaling kepada lelaki lain. Yang sejujurnya hanya mengganggapmu tak lebih dari teman. July 2006, kau berpaling lagi kepada lelaki lain, dan kau tahu bahwa dirimu hanyalah mainan belaka baginya. Dan kau mulai mendekatkan diri kepada rekannya, dan tak sadar pula, kau menjadi belaian mainan dua lelaki. Aku tak pernah berpaling ketika matamu berubah menjadi lebam karena menangisi laki-laki biadab itu, aku tak pernah menyalahimu ketika kau memelukku meminta empati dan kesediaan hati untuk menerimamu, mungkin saat itu harusnya aku menyadari apakah kita itu sahabat atau kekasih hati ?.

Mungkin dapat kukatakan, 25 Mei 2007. Saat terakhir kau meninggalkanku. Tapi ternyata tidak. Dua tahun kemudian pun kau masih berada di sekitarku. Walaupun selama 5 bulan terakhir di tahun 2008 kau menghilang dan ternyata kau sudah dimiliki oleh orang lain. Kau begitu polos, tanpa menyadari duniamu berubah, lingkunganmu berubah, teman-temanmu berubah, semua berubah kecuali Aku. Tetapi bagimu mungkin sekarang Aku hanyalah masa lalu, bukan seseorang yang berharga. Kau bilang Aku tak punya kehidupan, kau bilang Aku tak punya masa depan, sedangkan Aku memberikan masa depanku yang sudah kau ambil dan sia-siakan.  Tabunganku tujuh belas juta yang sudah kukumpulkan selama 6 bulan lamanya, tanpa berat hati aku berikan padamu ketika kau ada dalam kesulitan, dan dengan ringannya kau sudah tak punya waktu untuk sekadar tersenyum manis padaku dan kau terlalu sibuk dengan kehidupanmu. Aku tersisih oleh rutinitasmu yang tak pernah berakhir. Dunia malam, lintingan daun-daun hijau yang kau hisap membakar paru-parumu. Mungkin itu yang membuat kita berbeda. Dan aku selalu setia disini, mengingatkanmu akan baik dan buruknya suatu jalan, dan dengan egomu yang lama kau melimpahkan emosimu padaku, dan berharap aku meninggalkanmu. Aku pun berharap begitu. Aku tak bisa. Aku terlalu mencintaimu. Aku ingin melepasmu..

❤ , xxxx

—–

Trias Nuriarta

Keterangan :

* Bumantara = Langit
* Candala = orang buangan; dari kasta terendah

14 comments

    1. Hahaha..makasih crackers, atas komentarnya. Ya, begitulah pahitnya cinta. Kadang hati bisa melambung tinggi, tapi kadang hati bisa terinjak-injak.

  1. in the name of love you can do and give anything for it, also in the name of love you can ignore and throw anything you want to, including love itself…:'(

  2. agree with that, for certain people it is very hard, but for most people love is like a shirt, when u get bored with it, u can change it anytime…well,every time you got crushed by the love and you stood still for it because you’re sure of it, what kind of love was it?..huhuhu..love or being fooled!?.:'(

    1. Being FOOLED i guess..lol!
      Ppl who treat love like a shirt is definitely a player..
      But ppl who can’t let go of their past for such a long time is definitely a loser!
      Why? ’cause they just can’t let go and move on..

  3. yup..he must be a LOSER!..big LOSER!..becoz when he trying to move on, she always came back to him…and he continued to be another BIGGER LOSER!!..hehe

  4. will the girl get her karma in the future days??..love never asked about karma, but God do the job of it maybe..

  5. ini curhat-kah? atau apa? Well apapun itu, mending cerita ini diterusin, soalnya pas gw baca ini gw kayak lagi nonton film-series tp cuma setengah episode 1..hehee Ayoo..bikinn lagi.. kalo sumbernya dari pengalaman pribadi pasti lebih ok donk, karena lo ngga usah mikir2 lagi waktu nulisnya, tulis semuaaaa..hehehe.I’ll wait for the next, girl! to be true, the way you wrote this story is quite interesting, on kind that I’d love to read again and again.. cheers!

    1. Bukan curhat Li, terinspirasi dari temen gw. Iya, gw mau bikin lanjutannya lagi..jadi nantikan saja. Emang ngerasa gantung sih pas gw slese bikin, HAHA! So, wait for the next story then…🙂 thx for the compliment, really appreciate it!

    1. HAHA!..bahasa indonesia pada dasarnya juga susah nyari diksinya(pemilihan kata)..but, i’ll try to improve my writing soon!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s